Kepala sekolah

administrator
-
Recent Posts
LIPUTAN / ARTIKEL
- Agama (3)
- BK SMAN 1 Lintau (1)
- Diklat (1)
- Hikmah (2)
- Kesehatan (4)
- LIputan Khusus (6)
- Liputan Upacara Bendera Senin Pagi (1)
- Olah Raga (1)
- Quotes Of The Day (4)
- Seni Budaya (2)
- Serba Serbi (7)
- Uncategorized (26)
Blogroll
Recent Comments
- Yelbi Rizki Yulian on Bahaya istri yg durhaka
- Yelbi Rizki Yulian on Liputan Berita Seputar Pelatihan Journalist
- Alfahri on Bahaya istri yg durhaka
- Arief Rahmadhoni M.A on Profil Osis
- Arief Rahmadhoni M.A on Bahaya istri yg durhaka
Kearifan MinangkabauMakin Terkikis

KEARIFAN lokal Minangkabau saat ini banyak yang tergerus zaman, tak terkecuali upaya penanggulangan bencana.
Karenanya ragam kearifan lokal itu perlu dipahami kembali oleh generasi muda dan penerus bangsa.
“Saat ini kita bisa melihat
banyaknya kearifan lokal yang telah tergerus oleh zaman yang seharusnya dapat dijadikan bahan pelajaran bagi generasi sekarang, seperti terkait antisipasi dan penanggulangan kebencanaan,” kata Sosiolog
dari Universitas Andalas
Padang, Sumatera Barat,
Profesor Damsar, Sabtu (21/4).
Dia menambahkan, dalam upaya penanggulangan bencana, sebenarnya tidak boleh hanya sebatas masalah infrastruktur saja.Namun juga harus memberdayakan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat. Damsir mencontohkan, Rumah Gadang yang dibangun nenek moyang Minangkabau tetap dapat berdiri kokoh meski terjadi gempa.
Selain itu, lumbung tempat menyimpan padi dan petuah ‘kalau takuik dilamun galombang jan barumah
di tapi pantai’ (kalau takut
digulung ombak jangan
mendirikan rumah di tepi
pantai) merupakan kearifan lokal yang mampu membuat
orang-orang zaman dulu bisa
bertahan dalam kondisi
bencana.
Kearifan lokal semacam itu,
menurut Damsir, sudah banyak tidak lagi dipahami generasi sekarang, sehingga perlu diingatkan kembali pada masyarakat. Sebab banyak nilai-nilai yang terkandung dalam nasihat maupun bentuk pembangunan rumah yang telah dititipkan generasi sebelumnya untuk generasi saat ini dan generasi mendatang.
Pada Rumah Gadang, kita bisa melihat kearifan lokal nenek moyang tidak hanya dari nilai adat dan budayanya, namun juga dari konstruksi bangunan yang tahan terhadap gempa.
Petuah di atas juga jika
dianalisa lebih lanjut memiliki
pesan bagi masyarakat, agar dapat waspada di manapun mereka tinggal. Selain itu, masyarakat harus bersahabat dengan alam dan mengenali bahaya apa yang mengancam mereka di lingkungan tempat tinggalnya. “Banyak memang kearifan lokal yang dimiliki, namun terkadang kita lupa akan hal itu, dan baru
menyadari apa yang ditinggalkan nenek moyang
tersebut adalah agar kita belajar pada alam, untuk itu
kesadaran masyarakat adat
akan hal ini harus kembali
ditingkatkan, termasuk juga
pemerintah daerah,”jelasnya. Damsar menambahkan,
masyarakat adat harus kembali belajar pada alam dan melihat kearifan lokal yang ada.
Jangan hanya terpaku dengan kemajuan zaman dan melupakan apa yang telah ditinggalkan nenek moyang yang sejatinya lebih bernilai. “Terhadap pemegang kebijakan pemerintah, perlu juga mengambil kebijakan, untuk mempertahankan kearifan lokal tersebut, dengan berbagai cara. Agar generasi mendatang juga dapat mengambil nilai-nilai
yang telah sejak lama ditipkan untuk dipahami dan dipelajari itu,” tegasnya. (Ant/Wrt3)
Posted in Serba Serbi
Leave a comment
Ayah Menggendong Anaknya dari RSCM ke Bogor Karena Tidak Mampu Bayar AMBULAN !!
Ayah Menggendong Mayat
Anaknya Dari RSCM Ke Bogor
Karena Tak Mampu Bayar
Ambulan !! Terjadi Di Jakarta !!!,Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor
karena Tak Mampu Bayar
Ambulan !! Penumpang kereta rel listrik (krl) jurusan Jakarta –
Bogor pun geger Minggu (5/6).
Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama
Supriono (38 thn) tengah
menggendong mayat anak,
khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa krl. Tapi, di stasiun tebet, supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa
ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi, di kantor polisi, Supriono
mengatakan si anak tewas
karena penyakit muntaber.
Polisi belum langsung percaya dan memaksa supriono membawa
jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi. Di RSCM, Supriono
menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan setiabudi. Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk
membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel ka di cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, muriski saleh (6 thn), untuk memulung kardus di manggarai hingga salemba, meski hanya
terbaring digerobak ayahnya. Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya khaerunisa
menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang
kotor itu, di sela-sela kardus
yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang ayah dan kakaknya. Supriono dan muriski termangu. Uang di
saku tinggal rp 6.000,- tak
mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans.
Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari manggarai hingga ke stasiun
tebet, supriono berniat
menguburkan anaknya di
kampong pemulung di kramat, bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung. Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet. Yang tersisa hanyalah
sarung kucel yang kemudian
dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau khaerunisa
sudah menghadap sang khalik.
Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika krl jurusan bogor
datang, tiba-tiba seorang
pedagang menghampiri supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor, spontan penumpang krl yang
mendengar penjelasan supriono langsung berkerumun dan supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans
hitam. Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera
dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat
permintaan pulang dari RSCM.
Sambil memandangi mayat
khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali
memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang
untuk menyewa ambulans,
Supriono harus berjalan kaki
menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke
Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan. Psikolog
Sartono Mukadis menangis
mendengar cerita ini dan
mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk
mengurus jenazah khaerunisa. Jangan bilang keluarga supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan
alamat tetap. Ini merupakan
tamparan untuk bangsa
Indonesia, ujarnya.
Sumber, fans page Helm.Ku
Posted in Hikmah
Leave a comment
Buku Budaya Alam Minangkabau Versi Tanah Datar dibedah
![]() |
![]() |
![]() |
Posted in LIputan Khusus
Leave a comment
Dewan Pendidikan Kab. Tanah Datar adakan Workshop Analisis dan Bedah Buku Budaya Alam Minangkabau
Monday, 19 December 2011 04:24
Tokoh Masyarakat Tanah Datar diwakili oleh Sutan Mahmud yang juga memberikan masukan terhadap pembuatan buku Budaya Alam Minangkabau tersebut.
Batusangkar, www.tanahdatar.go.id>Dewan pendidikan Kab. Tanah Datar pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 17 dan 18 Desember 2011 di Kantor Dewan Pendidikan Kab. Tanah Datar, Batusangkar, mengadakan acara “Workshop Analisis dan Bedah Buku Budaya Alam Minangkabau (BAM). Hal ini dirasa perlu karena dalam pembuatan buku BAM Tanah Datar tersebut diperlukan masukan dari berbagai pihak. Maka dengan diadakannya bedah buku ini dapat berbagai input sehingga buku pelajaran tersebut nantinya akan membangun karakter berdasarkan Kebudayaan Minangkabau.
Buku yang direncanakan dapat dipakai pada tahun ajaran baru 2012/2013 nanti dibuat 10 jilid yang disesuaikan dengan tingkatan SD (kelas 3.4.5.6) SMP (kelas 1.2.3) dan SLTA (kelas 1.2.3).
Buku ditulis oleh 6 orang penulis buku dari berbagai unsur, guru, dosen dan LKAAM. Mereka adalah sebagai berikut:
-
Dr. Afif Zamzami M.Psi. Dt. Bandaro Putiah (Dosen)
-
Drs. Marjohan, M.Pd (Guru)
-
Diwarman, S.Pd, M.Si (Guru)
-
H. Arius Yasir (Guru)
-
Alfahri, M.Pd (Guru)
-
Drs. Amir Syarifuddin Dt. Mhd Sati (LKAAM Tanah Datar)
Acara bedah buku ini dibahas dengan guru-guru perwakilan dari masing-masing tingkatan dari masing-masing kecamatan di Tanah Datar.Pada acara pembukaan bedah buku dimaksud dihadirkan tokoh masyarakat, bundo kanduang, LKAAM, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika untuk mendapatkan beberapa pandangan untuk kesempurnaan buku dimaksud.(E/R)
Posted in LIputan Khusus
Leave a comment
PUTING BELIUNG
Bancana angin Puting Beliung telah melanda wilayah Nagari Rao-Rao Kecamatan Sungaitarab Kabupaten Tanah Datar.Sebanyak 48 buah rumah menjadi hancur termasuk sarana tali bandar dan akses jalan Batusangkar-Bukittinggi tertutup oleh pohon tumbang.
Peristiwa bancana Angin Putung Beliung itu terjadi pada hari Minggu 10/12, sekitar pukul.14.15 WIB, 6 buah rumah tercatat sebagai penderita terparah, rumah tidak dapat dihuni, pemilik rumah terpaksa diungsikan ke rumah tetangga.
Sementara sebanyak enam keluarga yang rumahnya rusak berat, hingga pukul 20.00 WIB tadi malam 10/12 telah berhasil diungsikan ke rumah-rumah tetangga korban yang tidak terkena musibah angin kencang.
Posted in Uncategorized
Leave a comment


